Pada zaman dahulu, di wilayah Kalimantan Barat yang masih di penuhi hutan lebat dan perbukitan, hiduplah seorang janda tua bersama anak perempuannya. Mereka tinggal di sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian. Sang ibu hidup dalam kesederhanaan dan bekerja keras setiap hari demi memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua.
Anak perempuannya tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Wajahnya bersih dan menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Namun, kecantikan itu tidak diiringi dengan sikap yang baik. Gadis tersebut memiliki hati yang keras, malas, dan sombong. Ia selalu merasa malu memiliki ibu yang miskin dan berpakaian sederhana.
Setiap hari, sang ibu pergi ke ladang untuk bercocok tanam dan mencari kayu bakar. Ia berharap anaknya mau membantu, tetapi harapan itu tidak pernah terwujud. Sang anak lebih suka menghabiskan waktu untuk merawat diri dan bermimpi tentang kehidupan mewah yang tidak pernah ia rasakan.
Suatu hari, sang ibu mengajak anaknya pergi ke pasar yang berada cukup jauh dari desa mereka. Hasil ladang akan dijual untuk membeli kebutuhan pokok. Dengan enggan, sang anak mengikuti ibunya. Di perjalanan, sang ibu berjalan di belakang sambil memikul hasil kebun, sedangkan anaknya melangkah di depan tanpa menoleh sedikit pun.
Lihat Cerita Rakyat Lainnya hanya di Kabaronlineku.my.id

Sesampainya di pasar, banyak orang memperhatikan mereka. Beberapa pedagang dan pengunjung bertanya kepada gadis cantik itu tentang perempuan tua yang berjalan bersamanya. Dengan wajah angkuh, ia menjawab bahwa perempuan tersebut hanyalah pembantunya. Jawaban itu terdengar jelas oleh sang ibu. Hatinya terasa hancur, namun ia memilih diam dan menahan rasa sakit.
Dalam perjalanan pulang melewati perbukitan berbatu, sang ibu tak lagi mampu menahan kesedihannya. Ia berhenti sejenak, menatap anaknya dengan mata berkaca kaca. Dalam kelelahan dan luka hati yang mendalam, ia memanjatkan doa agar Tuhan menunjukkan keadilan atas perlakuan anaknya yang durhaka.
Lihat Cerita Rakyat Lainnya hanya di Kabaronlineku.my.id

Tiba tiba langit menjadi gelap dan angin bertiup kencang. Tanah bergetar dan sang gadis merasakan tubuhnya perlahan kaku. Ia berteriak ketakutan sambil menangis dan memohon ampun kepada ibunya. Air mata mengalir deras dari wajahnya, namun semuanya sudah terlambat. Tubuhnya perlahan berubah menjadi batu, hingga akhirnya ia benar benar membatu.
Sang ibu menangis pilu di hadapan batu tersebut. Ia menyesali doanya, namun takdir telah di tetapkan. Batu itu di percaya masih mengeluarkan tetesan air yang menyerupai air mata. Karena itulah masyarakat Kalimantan Barat menamainya Batu Menangis.
Legenda Batu Menangis dari Kalimantan Barat terus di ceritakan secara turun temurun. Kisah ini menjadi pengingat agar setiap anak selalu menghormati, menyayangi, dan berbakti kepada orang tua, karena penyesalan yang datang terlambat tidak akan pernah mampu mengubah keadaan.