Asal Usul Padi dari Tanah Karo -Alkisah, di Tanah Karo, Sumatera Utara, berdiri sebuah negeri yang sedang dilanda kemarau panjang. Panas matahari membakar tanah, sungai-sungai mengering, dan pepohonan kehilangan daunnya. Penduduk negeri itu hidup dalam kesusahan, kelaparan, dan keputusasaan.
Di antara penduduk yang menderita itu, tampak seorang anak laki-laki kecil bernama si Beru Dayang. Ia adalah anak yatim yang hidup hanya bersama ibunya. Setiap hari, ibunya berusaha keras mencari makanan, tetapi di tengah kemarau yang panjang, tak satu pun tumbuhan yang dapat tumbuh.
Suatu siang, si Beru Dayang duduk di pangkuan ibunya. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, dan matanya memandang kosong. Dengan suara lirih ia berkata,
“Ibu… aku lapar.”
Sang ibu memeluk anaknya erat-erat. Ia menangis, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa. Air mata yang menetes di pipinya tidak mampu menghapus rasa lapar anaknya. Hari-hari berlalu, tubuh si Beru Dayang semakin lemah hingga akhirnya ia mengembuskan napas terakhir di pangkuan ibunya.
Sejak kepergian anak tunggalnya, sang ibu tenggelam dalam kesedihan yang tak terhingga. Ia tidak lagi makan, tidak lagi berbicara dengan siapa pun. Setiap hari ia hanya duduk di depan rumah, menatap kosong ke arah langit yang tak kunjung menurunkan hujan.
Hingga suatu senja, dengan hati yang hancur, sang ibu berjalan menuju sungai yang airnya mulai surut. Ia berdiri di tepi sungai, memandang air yang berkilau di bawah cahaya matahari terakhir hari itu. Dengan suara bergetar, ia berbisik,
Lihat Cerita Rakyat Lainnya hanya di Kabaronlineku.my.id
“Anakku, tunggu ibu datang.”
Lalu, tanpa ragu, ia melangkah ke dalam sungai yang dalam itu dan menghilang di telan arus. Tak seorang pun warga yang mengetahui kejadian itu.
Beberapa bulan berlalu, namun kemarau belum juga berakhir. Tanah Karo semakin tandus, dan penduduknya hampir putus asa. Suatu hari, di tengah padang yang kering kerontang, tampak dua anak kecil sedang mengais tanah, berharap menemukan umbi-umbian yang bisa di makan.
Tiba-tiba, salah seorang dari mereka berseru,
“Lihat! Ada sesuatu di sini!”
Mereka berdua menggali lebih dalam dan menemukan sebuah buah berbentuk bulat sebesar buah labu. Buah itu aneh kulitnya keras, warnanya keemasan, dan belum pernah dilihat oleh siapa pun. Dengan penuh rasa penasaran, mereka membawa buah itu pulang untuk ditunjukkan kepada orang tua mereka.
Namun, ketika sampai di rumah, tak seorang pun mengenali buah tersebut. Kabar pun segera menyebar ke seluruh negeri, hingga akhirnya raja Tanah Karo mendengar berita tentang buah misterius itu. Sang raja pun datang bersama para pengawal dan pendeta istana untuk melihat sendiri keanehan tersebut.
Saat raja dan para penduduk berkumpul di tengah alun-alun, menatap buah yang aneh itu, tiba-tiba terdengar suara dari langit. Suara itu bergema lembut namun tegas, membuat semua orang terdiam ketakutan.
“Wahai manusia,” kata suara itu, “ketahuilah bahwa buah ini adalah jelmaan dari seorang anak laki-laki bernama si Beru Dayang. Ia meninggal karena kelaparan dan kini kembali ke dunia untuk menolong kalian.”

Semua orang tertegun, menatap buah itu dengan takjub. Suara tersebut melanjutkan,
Lihat Cerita Rakyat Lainnya hanya di Kabaronlineku.my.id
“Tanamlah buah itu dengan baik, rawatlah dengan penuh kasih sayang. Kelak, dari buah itu akan tumbuh tanaman yang bisa menjadi makanan untuk kalian semua. Namun, ketahuilah, si Beru Dayang sangat merindukan ibunya. Ia ingin dipertemukan dengan ibunya yang kini telah menjelma menjadi seekor ikan di sungai.”
“Jika kalian menanam buah ini dan mempertemukan keduanya, maka negeri kalian tidak akan kelaparan lagi.”
Mendengar pesan itu, sang raja segera memerintahkan rakyatnya untuk menanam buah tersebut di tanah yang paling subur di desa. Para petani bekerja siang malam, menjaga tanaman itu dengan hati-hati seperti merawat anak sendiri.
Setelah genap tiga bulan, keajaiban terjadi. Dari tanah tempat buah itu ditanam, tumbuhlah tanaman dengan batang hijau dan daun panjang. Pada ujung batangnya, muncul bulir-bulir kecil berwarna keemasan yang berayun lembut tertiup angin. Ketika bulir-bulir itu mulai menguning, raja memerintahkan rakyatnya untuk memanen hasilnya.
Mereka menjemur bulir itu di bawah matahari, menumbuknya untuk memisahkan kulit dengan isinya, lalu memasaknya dengan air. Ketika matang, aroma harumnya menyebar ke seluruh desa. Saat di cicipi, rasanya lezat dan mengenyangkan.
“Inilah makanan yang dikirimkan oleh si Beru Dayang untuk kita,” ujar sang raja dengan mata berkaca-kaca.
Tanaman itu kemudian dinamakan padi. Sejak saat itu, padi menjadi sumber kehidupan bagi penduduk Tanah Karo dan seluruh manusia.

Untuk memenuhi pesan suara dari langit, raja memerintahkan rakyatnya menyantap makanan itu bersama ikan, yang di percaya sebagai jelmaan dari ibu si Beru Dayang. Dengan begitu, keduanya dapat di pertemukan kembali dengan si anak yang menjelma menjadi padi, dan sang ibu yang menjelma menjadi ikan.
Sejak hari itu, penduduk Tanah Karo selalu makan nasi bersama ikan sebagai simbol kasih antara ibu dan anak, serta rasa syukur atas berkah kehidupan.
Pesan Cerita
Cerita ini mengajarkan bahwa dari pengorbanan dan kasih sayang, lahirlah kehidupan baru. Si Beru Dayang dan ibunya menjadi lambang cinta yang abadi antara anak dan orang tua. Padi, hasil dari kasih itu, menjadi simbol kemakmuran dan pengingat agar manusia selalu bersyukur atas setiap rezeki yang diberikan oleh alam.